FISIP UIN Jakarta Lakukan Kunjungan Akademik ke KBRI Kuala Lumpur
FISIP UIN Jakarta Lakukan Kunjungan Akademik ke KBRI Kuala Lumpur

Berita FISIP.Kuala Lumpur, 16 Juli 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan kunjungan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia. Kunjungan akademik ini diterima dengan hangat oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Ahmad Romadhoni Surya Putra, Ph.D.

Dalam sambutannya, Ahmad Romadhoni memaparkan gambaran umum mengenai peran strategis KBRI Kuala Lumpur dalam memberikan pelayanan dan perlindungan. "KBRI melayani sekitar 2,5 juta Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Malaysia. Dalam menjalankan tugas ini, kami dibantu oleh satu Konsulat RI di Tawau, serta empat Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) yang tersebar di Penang, Johor Bahru, Kota Kinabalu, dan Kuching demi memastikan pelayanan terbaik bagi seluruh WNI," ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Yunus, perwakilan dari FISIP UIN Jakarta, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas sambutan pihak KBRI. Beliau menekankan bahwa kunjungan ini merupakan ruang belajar yang sangat berharga bagi civitas akademika. “Kami datang untuk belajar, terutama memetik pelajaran dari pengalaman langsung di lapangan. Karena bagi kami, guru yang paling berharga adalah pengalaman. Mohon bimbingan agar kami dapat menyerap ilmu yang bermanfaat selama kunjungan ini,” ungkap Ahmad Yunus.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif bersama para mahasiswa. Ibrahim, mahasiswa program studi Sosiologi semester 7, melemparkan pertanyaan mengenai pola koordinasi perlindungan WNI. "Bagaimana bentuk kerja sama konkret antara KBRI dan pihak konsulat jenderal dalam mengawal perlindungan WNI di Malaysia?" tanyanya.

Menanggapi hal tersebut, Ahmad Romadhoni menjelaskan bahwa integrasi di era digital saat ini berjalan sangat efektif. "Kerja sama di era modern ini jauh lebih mudah berkat perkembangan teknologi komunikasi. Namun, kunci utamanya adalah komitmen bersama untuk saling memahami dan mematuhi regulasi serta aturan-aturan yang telah ditetapkan secara jelas," terangnya.

Pertanyaan lain datang dari Adam, mahasiswa Sosiologi semester 7. Ia menyoroti fenomena banyaknya mahasiswa Indonesia yang memilih menetap pasca kuliah di Malaysia. Menjawab hal tersebut, Ahmad Romadhoni memberikan sudut pandang yang positif dari kacamata diplomasi. "Menurut saya, ketika mereka memutuskan untuk tinggal lebih lama dan berkarier di sini, mereka justru dapat berkontribusi besar menjadi perpanjangan tangan kami dalam melakukan diplomasi publik bagi Indonesia," jelasnya.

Diskusi juga membahas pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia. Ahmad Romadhoni menegaskan bahwa KBRI berkomitmen memastikan akses pendidikan bagi anak-anak WNI melalui Community Learning Center (CLC) dan Sanggar Bimbingan (SB) sebagai bagian dari upaya perlindungan WNI.

Pada kesempatan tersebut, KBRI Kuala Lumpur juga membuka peluang bagi mahasiswa FISIP UIN Jakarta untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional melalui kemitraan dengan Sanggar Bimbingan sesuai mekanisme yang berlaku.

Kunjungan resmi ini ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cindera mata sebagai simbol penguatan sinergi antara dunia akademik dan perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri.(marniza)