Pengabdian Pada Masyarakat melalui penguatan Demokrasi Kebangsaan
Pengabdian Pada Masyarakat melalui penguatan Demokrasi Kebangsaan

Berita FISIP. Rabu, 8 Juli 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menyelenggarakan diskusi publik dan peluncuran buku “Konsolidasi Kebangsaan: Mengawal Demokrasi” karya Mochtar Pabottingi di Aula Madya FISIP UIN Jakarta. Agenda akademik ini menjadi ruang refleksi kritis atas pemikiran almarhum mengenai artikulasi kebangsaan, integrasi demokrasi, serta proyeksi tantangan bernegara di Indonesia.

Dalam diskusi tersebut, Delpedro Marhaen menyoroti fenomena 'kelelahan sosial' (social fatigue) yang melanda elite kepemimpinan maupun masyarakat sipil. Ia menekankan urgensi revitalisasi ide kebangsaan melalui pengarsipan pemikiran dan forum diskursif yang berkelanjutan. Lebih lanjut, ia menguraikan pandangan Pabottingi mengenai disorientasi akut Indonesia terhadap entitas nation dan demokrasi, di mana gejolak sosial tidak akan menghasilkan perubahan substantif tanpa penegakan keadilan sosial dan penguatan kesadaran kebangsaan.

Selaras dengan hal itu, Dr. Chairul Mustafa memaparkan bahwa degradasi kualitas berbangsa saat ini bersumber dari dominasi eksesif negara yang berpotensi menghambat lahirnya pemimpin bermoralitas dan berintelektual kuat. Mengacu pada kerangka konseptual Pabottingi, ia mendefinisikan nation sebagai titik temu egaliter antara negara dan nasionalisme yang berlandaskan otosentrisitas, sedangkan demokrasi bertindak sebagai bangunan politik yang rasional. Keduanya wajib beroperasi secara integral demi menjawab problematik bangsa.

Sementara itu, Dr. Airlangga Pribadi mempertegas dialektika tersebut dengan menempatkan nation sebagai etos (kehendak kolektif masyarakat) dan demokrasi sebagai logos (rasionalitas politik). Ia mengkritisi kecenderungan over-ideologisasi Pancasila yang kerap mengabaikan nilai kemanusiaan, dan menawarkan paradigma modernitas yang tetap berakar pada kebudayaan lokal melalui cara pandang otosentrisitas. Sebagai penanggap, Sherin Aulia menyimpulkan bahwa konsolidasi kebangsaan dan resiliensi demokrasi hanya dapat terwujud jika dibangun di atas trias fondasi: nilai keadilan, moralitas, dan kebudayaan.

Melalui agenda ilmiah ini, para peserta diajak merekonstruksi hubungan antara nation, demokrasi, dan kebangsaan sebagai pijakan teoretis yang kokoh untuk memperkuat konsolidasi demokrasi Indonesia di tengah dinamika tantangan kontemporer. (Dwi Putri Riani, Niza)