Seminar Lab Sosiologi #02 Bahas Dialog Interkultural dan Kohesi Sosial di Era Globalisasi
Berita FISIP, Rabu 20 Mei 2026 - Laboratorium Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menyelenggarakan Seminar Lab Sosiologi #02 bertajuk “Intercultural Dialogue and Social Cohesion in a Globalised World” pada Rabu, 20 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Madya Lantai 1 FISIP UIN Jakarta tersebut menghadirkan akademisi dari Coventry University, Dr. Uroosa Mushtaq, sebagai narasumber utama.
Seminar yang dihadiri oleh 126 peserta dari mahasiswa Program Studi Sosiologi dan Hubungan Internasional ini turut didampingi oleh dosen FISIP UIN Jakarta, Fikha Adelia. Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi pemaparan materi dan diskusi bersama peserta.
Dalam pemaparannya, Dr. Uroosa menjelaskan bahwa dialog interkultural merupakan proses pertukaran terbuka dan saling menghormati antarkomunitas yang dibangun atas dasar timbal balik, martabat, serta saling pengertian. Menurutnya, dialog tidak selalu berbentuk komunikasi verbal, tetapi juga dapat hadir melalui gestur sederhana yang menunjukkan penghormatan antarmanusia.
Ia menekankan bahwa konflik tidak semata-mata terjadi karena adanya perbedaan, melainkan akibat kurangnya ruang diskusi yang memungkinkan masyarakat saling memahami perspektif satu sama lain. Di tengah arus globalisasi, migrasi, dan digitalisasi, interaksi sosial antarkelompok dinilai semakin berkurang sehingga dialog menjadi sarana penting untuk mengurangi stereotipe dan ketidakpercayaan sosial.
Dalam seminar tersebut, Dr. Uroosa juga memaparkan hasil penelitiannya mengenai dialog interkultural pada diaspora Jammu dan Kashmir di Inggris. Ia menjelaskan bahwa wilayah Jammu dan Kashmir memiliki kompleksitas identitas yang tinggi, baik dari segi budaya, bahasa, maupun agama. Penelitian tersebut dilakukan melalui focus group discussion (FGD) guna mempertemukan para diaspora agar dapat saling mendengarkan dan membangun empati, meskipun tidak harus memiliki pandangan yang sama.
Menurutnya, proses dialog tidak selalu menghasilkan solusi langsung atas konflik, tetapi dapat membuka ruang pemahaman, mengurangi kesalahpahaman, serta membangun kepercayaan antarkelompok. Ia juga menyampaikan bahwa keamanan dan kenyamanan partisipan menjadi faktor penting dalam menciptakan ruang dialog yang sehat.
Sebagai penutup presentasi, Dr. Uroosa menyampaikan bahwa kohesi sosial tumbuh melalui empati, martabat, dan komunikasi. Ia juga menegaskan pentingnya memperkenalkan praktik dialog sejak dini dalam kehidupan masyarakat yang beragam.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Professor Mike yang menyoroti kompleksitas identitas manusia dalam kehidupan sosial. Menurutnya, diskusi dan komunikasi tetap menjadi cara yang relevan untuk menjembatani perbedaan dan memperkuat perdamaian di tengah keberagaman.
Pada sesi tanya jawab, peserta aktif mendiskusikan penerapan dialog interkultural di lingkungan kampus, peran negara dalam membangun perdamaian, hingga relevansi metode dialog interkultural dalam penelitian sosial. Diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan antusiasme mahasiswa terhadap isu kohesi sosial dan keberagaman di era globalisasi. (Aliya Rahima Afifa, Marniza)
